
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) seperti kalap menambang batubara. Manajemen BUMI memperkirakan, sepanjang tahun ini produksi batubara mereka bisa mencapai 70 juta ton per tahun. Jumlah produksi itu merupakan rekor tertinggi produksi BUMI selama ini.
Senior Vice President Hubungan Investor BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, selain kenaikan produksi, volume penjualan batubara tahun ini juga bisa meningkat menjadi 62 juta ton. Sebagai perbandingan, tahun 2008, BUMI memproduksi batubara sekitar 51,5 juta ton. Adapun volume penjualan batubara mencapai 54 juta ton.
Dileep Srivastava juga mengklaim bahwa selain peningkatan produksi batubara, rata-rata harga jual batubara BUMI juga masih lumayan. “Harga rata-rata Free On Board (FOB) batubara kami sebesar US$ 60 per ton,” ujar Dileep kepada KONTAN, kemarin (29/10).
Sebelumnya, manajemen BUMI hanya menargetkan produksi batubara sepanjang tahun sekarang berkisar antara 58 juta – 60 juta ton. Mulai tahun depan, emiten saham anggota The Seven Brothers ini menggenjot produksi batubara. Tahun 2011, produsen batubara terbesar di Indonesia itu menargetkan produksi mencapai 110 juta ton per tahun.
Antisipasi permintaan
Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman melihat, sebenarnya bukan hal aneh apabila produksi batubara BUMI mencapai 70 juta pada tahun sekarang. “Apalagi dengan dukungan dana dari China Investment Corporation (CIC), mereka bisa menggenjot produksi batubara lebih banyak lagi,” ulasnya.
Meski produksi berlimpah, toh menurut prediksi Norico, jumlah penjualan batubara BUMI hingga akhir 2009 kemungkinan hanya sebesar 60 juta ton. Sementara untuk target produksi, Norico memperkirakan jumlahnya sebesar 64 juta hingga 65 juta ton per tahun.
Ia menduga, langkah BUMI menggenjot produksi batubara itu merupakan upaya untuk mengantisipasi lonjakan permintaan batubara dari pasar internasional. “Namun untuk lebih pastinya, sebaiknya menanti penjelasan resmi dari BUMI dalam pengumuman laporan keuangan mereka pada bulan November mendatang,” kata Norico.
Norico juga memperkirakan memberikan harga jual rata-rata batubara BUMI tahun ini sekitar US$ 65 sampai US$ 70 per ton. Ia menjelaskan harga FOB (Free On Board) itu biasanya lebih rendah 10% sampai 20% dari harga batubara di pasar spot.
Jadi, apabila BUMI menyatakan harga FOB mereka US$ 60 per ton, bisa jadi harga kontraknya sudah mencapai sekitar US$ 70 per ton.
Sekedar catatan, harga saham BUMI belakangan ini terus anjlok. Pada penutupan perdagangan 24 September 2009, harga saham BUMI sempat bertengger di level Rp 3.375 per saham.
Namun siapa sangka harga itu kemudian anjlok hingga terseret di posisi Rp 2.400 per saham pada penutupan perdagangan 28 Oktober 2009. Walhasil, dalam waktu sekitar sebulan, harga saham BUMI telah merosot sekitar 28,89%.
Ada yang menduga, kejatuhan harga saham BUMI itu akibat sentimen negatif atas bunga utang super tinggi dari CIC. Para investor menganggap, bunga sebesar itu berpotensi memberatkan kinerja keuangan BUMI di masa yang akan datang.
Sentimen negatif lain berasal dari kabar bahwa induk usahanya, Bakrie & Brothers (BNBR) akan merepokan lagi saham BUMI. (KONTAN, edisi 23 Oktober 2009).
Pada penutupan perdagangan saham kemarin, harga saham BUMI naik 3,13% dan berakhir di level Rp 2.475 per saham. sumber berita dari kontan.co.id

Produksi batubara nasional yang meningkat serta ekspektasi naiknya permintaan di pasar global membuat industri di sektor ini tak pernah kehilangan peminat. Tak hanya investor lokal tetapi juga asing.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) yakin bahwa produksi batubara lokal tahun ini secara keseluruhan mampu mencapai 250 juta ton. Angka itu bertambah, dimana produksi batubara pada 2010 diperkirakan akan mencapai 270 juta ton.
Di lain sisi, negara pengekspor sumber energi tersebut, kini terlihat mulai mengambil posisi di Indonesia. Salah satunya China, yang mulai melirik perusahaan tambang batubara dalam negeri untuk kerjasama. Selain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkit listriknya, juga untuk mendiversifikasi cadangan devisa.
Misalkan saja China Investment Corporation (CIC) yang menandatangani perjanjian investasi senilai US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 19 triliun dalam format instrumen sejenis utang kepada PT Bumi Resources (BUMI).
Sebagai salah satu dari lembaga investasi terbesar dan terkemuka di dunia, CIC melihat prospek bisnis batubara yang menjanjikan di Indonesia. Manajemen BUMI dalam informasi tambahannya kepada BEI menyatakan transaksi tersebut tidak material karena berupa transaksi pembiayaan kembali (refinancing), sehingga investasi ini dianggap bukan pinjaman baru.
Adapun sisa dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi produksi batubara BUMI yang kini sebesar 60 juta ton menjadi 100 juta ton (2011-2012). Jaminan pinjaman tersebut berupa saham BUMI di perusahaan batubara (diperkirakan KPC dan Arutmin)
Perusahaan lokal pun tak mau ketinggalan. Salah satunya PT AKR Corporindo (AKRA) yang saat ini sedang melakukan proses uji tuntas terhadap PT Anugrah Karya Raya, yang bergerak di sektor pertambangan.
Aksi ini untuk mendukung ekspansi di masa yang akan datang. Pada 5 Mei lalu, AKRA melakukan perjanjian gadai saham PT Jakarta Tank Terminal (JTT) terkait dengan transaksi penjaminan fasilitas kredit US$ 60 juta.
Ketertarikan itu juga dipicu kinerja positif yang ditunjukkan beberapa emiten batubara di tanah air. Salah satunya saham PT Indo TambangRaya Megah (ITMG), yang pada semester pertama kemarin, juga cukup positif, dengan laba bersih naik 129%. Kemudian marjin usaha naik dari 19% ke 32%, sedangkan average selling price (ASP) naik dari US$ 60 ke US$ 79 per ton.
Vice President, Research & Analysis Valbury securities Nico Omer Jonckheere masih memberi rekomendasi beli terhadap beberapa saham batubara, terkait leverage terhadap kenaikan harga batubara paling besar. Ia pun menargetkan harga ITMG dapat mencapai Rp 41.700. “Investor bisa buy on weakness di level Rp 24.200,” jelasnya.
Saham lain yang disarankan Nico adalah PT Adaro Energy (ADRO), menyusul rencana perseroan untuk memperoleh pinjaman sebesar US$ 500 juta dari sindikasi 12 bank lokal dan asing serta kemungkinan pembelian 3 juta ton batubara ADRO oleh Indonesia Power untuk memenuhi kebutuhan 3.400 MW pembangkit listrik tahun depan. “Kami rekomendasikan beli dengan target harga mencapai Rp 2.675,” ujarnya.
Menurutnya, kinerja perseroan cukup posiitif, dengan laba bersih naik 1.507%, dengan marjin usaha naik dari 21,4% ke 38,2%. Selain itu, perseroan juga berencana mengakuisisi tambang batubara milik BHP Billiton dan menaikkan produksi menjadi 80 juta ton/tahun. sumber berita dari inilah.com