Batu Bara Indonesia

coalmining | January 12th, 2010 - 10:43 am

tambang_batu_bara Batu bara atau batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.

Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.

Di Indonesia, endapan batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.

Batu Bara Indonesia
Batu bara ini terbentuk dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu bara Miosen. Sebaliknya, endapan batu bara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu bara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan.[1]
[sunting] Endapan batu bara Eosen

Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan Kalimantan.

Ekstensi berumur Eosen ini terjadi sepanjang tepian Paparan Sunda, dari sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian timur, Laut Jawa hingga Sumatera. Dari batuan sedimen yang pernah ditemukan dapat diketahui bahwa pengendapan berlangsung mulai terjadi pada Eosen Tengah. Pemekaran Tersier Bawah yang terjadi pada Paparan Sunda ini ditafsirkan berada pada tatanan busur dalam, yang disebabkan terutama oleh gerak penunjaman Lempeng Indo-Australia.[2] Lingkungan pengendapan mula-mula pada saat Paleogen itu non-marin, terutama fluviatil, kipas aluvial dan endapan danau yang dangkal.

Di Kalimantan bagian tenggara, pengendapan batu bara terjadi sekitar Eosen Tengah – Atas namun di Sumatera umurnya lebih muda, yakni Eosen Atas hingga Oligosen Bawah. Di Sumatera bagian tengah, endapan fluvial yang terjadi pada fasa awal kemudian ditutupi oleh endapan danau (non-marin).[2] Berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan bagian tenggara dimana endapan fluvial kemudian ditutupi oleh lapisan batu bara yang terjadi pada dataran pantai yang kemudian ditutupi di atasnya secara transgresif oleh sedimen marin berumur Eosen Atas.[3]

Endapan batu bara Eosen yang telah umum dikenal terjadi pada cekungan berikut: Pasir dan Asam-asam (Kalimantan Selatan dan Timur), Barito (Kalimantan Selatan), Kutai Atas (Kalimantan Tengah dan Timur), Melawi dan Ketungau (Kalimantan Barat), Tarakan (Kalimantan Timur), Ombilin (Sumatera Barat) dan Sumatera Tengah (Riau). source wikipedia

Business prospects for coal in Indonesia

coalmining | January 8th, 2010 - 8:00 am

coal_from_indonesia  

We will review the coal business in the year 2010. National coal production increase and expectations of rising demand in global markets makes the industry in this sector never lost interested. Not only local investors but also foreign.

Indonesian Coal Mining Association (APBI) believed that the local coal production this year as a whole could reach 250 million tons. That number increases, where coal production in 2010 is expected to reach 270 million tons.

On the other hand, countries exporting energy resources, now visible from taking a position in Indonesia. One was China, which will begin to look to coal mining companies in the country for cooperation. In addition to meet the needs of fuel for electricity, as well as to diversify its foreign exchange reserves.

Let’s say China Investment Corporation (CIC) which signed an investment agreement worth U.S. $ 1.9 billion or approximately USD 19 trillion in a format similar debt instruments to PT Bumi Resources (BUMI).
As one of the largest investment institutions and the world’s leading, CIC see business prospects are promising coal in Indonesia. EARTH management in addition to the IDX information stated the transaction was not material because the form of refinancing transactions (refinancing), so this investment is not considered a new loan.
The remaining funds will be used for expansion of coal production is now Earth is 60 million tonnes to 100 million tons (2011-2012).

Loan guarantees in the form of shares in the company EARTH coal (estimated KPC and Arutmin)
Local companies did not want to miss. One of them is PT AKR Corporindo (AKRA) which is currently doing due diligence process of PT Anugrah Karya Raya, which moves in the mining sector.
This action to support the expansion in the future. On May 5 last, lien agreements AKRA shares of PT Jakarta Tank Terminal (JTT) associated with underwriting transactions credit facility of U.S. $ 60 million.
It also sparked interest in the positive performance shown some issuers of coal in the ground water. One of them shares of PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), which in the first half yesterday, was also quite positive, with net profit rising 129%. Then the business margin increased from 19% to 32%, while average selling price (ASP) rose from U.S. $ 60 to U.S. $ 79 per ton.
Vice President, Research & Analysis Valbury securities Nico Omer Jonckheere still recommends buying shares of some coal, related to the increase in leverage biggest coal prices. He also ITMG price target to reach USD 41,700. Investors can buy on weakness at the level of Rp 24,200, he explained.

Other stocks are recommended Nico PT Adaro Energy (ADRO), following the company’s plan to obtain a loan of U.S. $ 500 million from the syndication of local banks and 12 foreign and possible purchase of 3 million tons of coal ADRO by Indonesia Power to meet the needs of 3400 MW power plant in front. We recommend a buy with a target price of Rp 2675, he said.

According to him, the company’s performance posiitif enough, with a net profit of 1507% increase, with business margin increased from 21.4% to 38.2%. In addition, the company also plans to acquire coal mines owned by BHP Billiton and increase production to 80 million tons / year.

Coal business will be more developed, new investors will enter the coal business. Buying and selling of coal in Indonesia will get better, with the supply of coal for local needs and to export coal to Overseas. We, also coalinvestors.com Finding New Investors on Business Coal, for it please contact us for details.